http://www.batararayamedia.co.id
[In Update +2.644 sinonim] Spinner Artikel Bahasa Indonesia, Membantu Menghindari Plagiarism Tulisan, dan lebih dari 45000 sinonim bahasa Inggris
Beranda
Indonesian Spinner
English Spinner
Dutch Spinner
Keyword Suggest
Parse HTML
Clean Tags HTML
Clean Atribut HTML
KW Tracker
[x] Logout »
TEKS ASLI : (428 kata)
Kisah Karomah Abah Anom, Gelas Berisi Ikan
KH A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1 Januari 1915. Ia adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Juhriyah.
Ketika berusia 23 tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru'yanah. Setelah menikah, ia berziarah ke Tanah Suci. Selama Ramadhan, Abah rajin mengikuti pengajian bandungan di Masjidil Haram yang disampaikan guru-guru dari Mekkah atau Mesir.
Ketika di Mekkah, Abah Anom terbiasa tidur di atas pasir di Masjidil Haram (pada masa itu sebagian lantai masjidil Haram masih berupa pasir) dan setiap pagi ia bangun. Ia rajin mengunjungi ribat naqsabandi di jabal Gubaisy untuk muzakarah kitab Sirrul Asror dan Ganiyyat Al-Talibin karya Sayyidi Syeikh Abdul Qodir Aj-Jaelani.
Abah pulang dari Mekkah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939). Ia telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan.
Pengetahuannya meliputi tafsir, hadits, fikih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Abah Anom dikenal sebagai tokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Ketika Abah Sepuh wafat, pada tahun 1956, Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya.
Banyak tersebar kisah karomah Abah Anom seperti yang dituliskan di buku-buku latar belakang dan perkembangan Pesantren Suryalaya. Ada sebuah kisah tentang Abah Anom menghadapi seorang kapten yang akan menjajal ilmu Abah Anom. Seorang kapten dan anak buahnya mendatangi Pesantren Suryalaya.
Ia membawa sebuah batu kali dari kantongnya sebesar tinju. Batu itu diletakkan di sebelah telapak tangan kirinya, kemudian tangan kanannya satu kali pukul saja batu tersebut telah terbelah dua. Dia berikan kedua belahan batu itu kepada Abah dengan sikap sombong.
Abah Anom mengambil batu itu dan meremas batu itu, kemudian jadilah batu itu hancur laksana tepung. Si kapten terbelalak matanya tetapi ia belum putus asa dan masih penasaran.
Tiba-tiba Abah Anom meminta segelas air kepada tukang masak di dapur, yang segera datang di hadapan Abah Anom. Gelas berisi air itu diberikan kepada si kapten yang dilihatnya ada ikan dalam gelas.
Kapten itu segera bergaya seperti orang yang memancing dan ikan itu seolah terkait di alat pancing. Dia tunjukkan dengan sombong ikan itu terpancing dari gelas itu kepada Abah Anom.
Tetapi, tiba-tiba di lantai, di hadapan si kapten menggeletar seekor ikan besar yang kemudian dengan isyarat jari telunjuk saja oleh Abah Anom, ikan itu seperti terkait dengan pancingan telunjuk Abah Anom.
Belum sempat sang kapten menunjukkan ketakjubannya lagi, Abah Anom seolah memegang ketapel, dia mengarahkan ketapel itu ke atas atap rumah dan sesudah ditariknya tiba-tiba jatuhlah seekor burung yang rupanya kena tembakan ketapel.
Sang kapten bersujud di depan Abah Anom, diletakkannya lututnya kepada lutut Anom Anom, mengaku kalah dan meminta maaf, serta minta ditalqinkan untuk menganut dan mengamalkan Pesantren Suryalaya
1 Spin Rekomendasi Terbaik / 3 Pilihan Hasil Spin
* Tag-tag html/script tidak diizinkan!
HASIL SPIN TEKS ANDA: (* Kata hasil spinner dapat diubah dengan klik kata tersebut)
Hasil Spin (487 kata |kemiripan 64% | diubah 108 kata): Select all
Kisah Karomah Abah Anom, Gelas Berisi Ikan
KH A Shohibulwafa Tajul Arifin yg dikenal dgn nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya, Tasik, Jawa Barat, kepada 1 Januari 1915. Beliau yaitu putra kelima Syaikh Abdullah Badan Intelijen Negara Nur Muhammad, pendiri Pesantren Suryalaya, dari ibu yg bernama Juhriyah.
Kala berumur 23 th, Abah Anom menikah dgn Euis Siti Ru'yanah. Sesudah menikah, beliau berziarah ke Tanah Suci. Sewaktu Ramadhan, Abah rajin mengikuti pengajian bandungan di Masjidil Haram yg diungkapkan guru-guru dari Mekkah atau Mesir.
Diwaktu di Mekkah, Abah Anom terbiasa tidur diatas pasir di Masjidil Haram (terhadap musim itu sebahagian lantai masjidil Haram masihlah berupa pasir) & tiap-tiap pagi dirinya bangun. Beliau rajin mengahdiri ribat naqsabandi di jabal Gubaisy utk muzakarah kitab Sirrul Asror & Ganiyyat Al-Talibin karya Sayyidi Syeikh Abdul Qodir Aj-Jaelani.
Abah pulang dari Mekkah, sesudah bermukim kira kira tujuh bln (1939). Dia sudah memiliki tidak sedikit wawasan & pengalaman keagamaan.
Pengetahuannya meliputi tafsir, hadits, fikih, kalam, & tasawuf sebagai inti ilmu agama. Abah Anom dikenal yang merupakan tokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Waktu Abah Lanjut Usia meninggal, kepada thn 1956, Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya.
Tidak Sedikit menyebar kisah karomah Abah Anom seperti yg dituliskan di buku-buku latar belakang & perkembangan Pesantren Suryalaya. Ada suatu kisah mengenai Abah Anom menghadapi satu orang kapten yg bakal menjajal ilmu Abah Anom. Seseorang kapten & anak buahnya mendatangi Pesantren Suryalaya.
Dirinya mengambil satu buah batu kali dari kantongnya segede tinju. Batu itu diletakkan di sebelah telapak tangan kirinya, selanjutnya tangan kanannya satu kali pukul saja batu tersebut sudah terbelah dua. Beliau memberi ke-2 belahan batu itu pada Abah dgn sikap angkuh.
Abah Anom membawa batu itu & meremas batu itu, seterusnya jadilah batu itu hancur laksana tepung. Si kapten terbelalak matanya tapi beliau belum putus asa & tetap penasaran.
Tiba-tiba Abah Anom meminta segelas air pada tukang masak di dapur, yg serentak datang di hadapan Abah Anom. Gelas berisi air itu diberikan terhadap si kapten yg dilihatnya ada ikan dalam gelas.
Kapten itu langsung bergaya seperti orang yg memancing & ikan itu seolah terkait di media pancing. Dirinya tampilkan bersama angkuh ikan itu terpancing dari gelas itu pada Abah Anom.
Tapi, tiba-tiba di lantai, di hadapan si kapten menggeletar seekor ikan gede yg setelah itu bersama isyarat jari telunjuk saja oleh Abah Anom, ikan itu seperti terkait dgn pancingan telunjuk Abah Anom.
Belum pernah sang kapten menunjukkan ketakjubannya lagi, Abah Anom seolah memegang ketapel, dirinya mengarahkan ketapel itu ke atas atap hunian & setelah ditariknya tiba-tiba jatuhlah seekor burung yg rupanya kena tembakan ketapel.
Sang kapten bersujud di depan Abah Anom, diletakkannya lututnya pada lutut Anom Anom, mengaku kalah & meminta maaf, pun minta ditalqinkan buat menganut & mengamalkan Pesantren Suryalaya
nunu


No comments:
Post a Comment