Kepada akhir-akhir thn 80-an & awal 90-an, alfaqir tidak sedikit bertemu bersama Tuan Hj Lal Mohamad Baksh Khan, seseorang rakyat Singapura kelahiran Pakistan yg tinggal lama di Indonesia di Tasik. Dirinya tergolong dalam kalangan para solihin & ini di kuatkan lagi bersama pernyatan dari Almarhum Al-Allamah Sheikh Omar Badan Intelijen Negara Abdullah Al-Khatib. Sheikh Omar memberitahu para muridnya bahwa Haji Lal ini 'sohibul haal' - orang yg tidak sedikit mengalami pemberian rohani dari Tuhan'.
Haji Lal, disaat di Tasik, pernah bertemu bersama Abah lanjut umur(Ayahanda Abah Anom) & tidak sedikit menonton karomah Abah Lanjut Umur, diwaktu itu umurnya 13 th sambil jual bunga di bandar-bandar Tasikmalaya. Dirinya juga pernah menyaksikan era peralihan kepimpinanan Mursyid Thoriqah Qodiriyah Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya dari Abah Lanjut Usia ke Abah Anom. Sedang menceritakan, nada dirinya kedengaran nyaris menangis sambil bicara : ''Abah Anom yakni sohibul karomat.... Ghouse, sangat banyak karomah Abah, aku menonton bersama mata aku sendiri, Ghouse...'' sambil memesan & memegang bahu alfaqir. Ia menceritakan satu kejadian yg tak sanggup ia lupakan sampai hri ini. Kata dia...
.
'Pada dikala itu, Abah Anom telah menukar Abah Tua, ada satu orang paderi kristian yg amat sangat populer kejahatannya dgn ilmu saktinya. Dirinya dapat membawa panas matahari cuma bersama isyarat tangannya & menaruh panas matahari itu ke dalam sakunya. Bilamana ada kiyai atau ahli agama merendah-rendahkan atau melecehkan agama kristian, beliau dapat bertolak bertemu kyai tersebut & melontarkan panas matahari itu dari sakunya, & kiyai itu konsisten menjerit kepanasan & mati segera. Tidak Sedikit kyai yg mati dari kesaktiannya maka akibatnya tidak sedikit para Kyai yg tak mengemukakan sesuatu berkenaan agama kristian kawatir dibunuh paderi ini dgn ilmu saktinya yg amat mengerikan.
Disaat karomah Abah Anom sejak mulai disebut-sebut orang, ia datang ke Pondok Pesantren Suryalaya, saat itu aku(Haji Lal) berada disamping Abah, aku yg teramat takut dikala itu tak akan mengerakkan kaki aku utk lari, namun terpaku di ujung ruangan madrasah - area Abah terima tamunya.
Paderi itu tak tidak sedikit berbicara, dirinya tetap mengeluarkan sesuatu dari sakunya & melontarkannya ke arah Abah Anom. Seperti biasa Abah selalu menghadapi keadaan-keadaan begini bersama dzikir khafinya, terhadap disaat itu aku menonton ada cahaya warna biru yg amat sangat jelas ke luar dari dada Abah menuju ke arah paderi tersebut, waktu seluruhnya cahaya itu masuk ke dalam diri paderi itu, beliau menjerit bersama sekuat hatinya, jeritannya seakan-akan sakit puluhan kyai yg sudah dibunuh di rasakan kala itu. Hasilnya dirinya menjerit-jerit dulu minta ampun terhadap Abah dgn tangisan-tangisannya & bertobat & berhasrat masuk ke agama Islam. Abah perkenankan permintaannya, dulu beliau mengucapkan 2 kalimah syahadahnya & minta di memberi baiáh zikir thoriqah Qodiriyah Naqsyabandiyah & konsisten jadi ikhwan.''
Haji Lal menambah.... bersama nada rendah memesan yg nyaris menangis sebab terharu, sambil berbicara "Ghouse.. baji pesan, bila Ghouse nak tahu, Abah Anom itu 'superman'' Allah terhadap era kita, syukurlah, jangan sampai bermain dalam zikrullah ini, tentu menjadi jikalau kita ikhlas.''
Almarhum Haji Lal meninggal terhadap th 1992 di Singapura dalam umurnya 83/4 thn. Dia sudah dgn Abah Lanjut Umur di Tasik sejak umurnya 13 thn maka sekian banyak thn selepas Abah Tua meninggal (30 thn lebih lamanya). Dirinya membawa baiáh bersama Abah Anom sebelum balik ke Pakistan seterusnya ke Singapura.
Wallohu a'lam.
nunu


No comments:
Post a Comment