Ketika jama'ah TQN Suryalaya di suatu kampung mengadakan manaqiban, tiba-tiba masjid tempat dimana acara itu diselenggarakan dilempari batu oleh orang-orang yang tidak suka dengan acara tersebut. Karena sedih, beberapa orang jama'ah memutuskan untuk pergi ke Suryalaya dengan maksud hendak mengadukan prihal tersebut kepada Abah.
Sesampainya di Suryalaya mereka langsung menuju masjid dan berencana akan menemui Abah setelah taushiyah shubuh....dan yang membuat para jama'ah itu kaget adalah dalam taushiyah subuhnya Abah berkata begini:
"Alhamdulillah....semalam di suatu kampung, batu-batu pun ikut berdzikir dengan menhampiri masjid yang di dalamnya diadakan acara manaqib"
Padahal para jama'ah belum menceritakan prihal mereka.
Demikianlah cermin kebersihan hati seorang Mursyid yang mukasyafah.
Pangersa Abah Anom : Kiai Pasak Bumi yang Zuhud
Sesepuh Ponpes Suryalaya Abah Anom di Ponpes Suralaya, Tasikmalaya, Jawa Barat
Pembimbing Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Menerapkan "Metode Inabah" untuk menyembuhkan para korban narkoba. Tidak pernah mau bertamu kepada para pejabat.
Seorang pemuda dengan ransel di pundaknya memasuki sebuah rumah bercat kuning yang di bagian atas pintunya tertulis kaligrafi : Azzamifthaful Thariqat Qadiriyah wannaqsabandiyah. Rumah yang disebut madrasah dan bersebelahan dengan Masjid Nurul Ashrar itu, adalah kediaman Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifi n, pemimpin Pondok Pesantren Suryalaya.
Pemuda itu bernama Badhrowi, yang sedang mondok di pesantren tersebut. Ia hendak menemui Ahmad Shohibulwafa, yang termashyur dipanggil Abah Anom. Saat itu masih sekitar pukul enam pagi. Rumah Abah Anom sudah ramai dikunjungi tamu untuk berbagai keperluan.
Sebagaimana biasa, jika pulang kampung, Badhrowi selalu pamit pada Abah Anom dan meminta doa dengan media sebotol air putih agar selamat sampai tujuan. Momen di penghujung bulan Juni 1997 itu, menjadi salah satu kejadian yang berkesan bagi Badhrowi. Ia yang hendak menuju tanah kelahirannya, Palembang, di tengah perjalanan, persisnya di daerah Pelabuhan Merak, ia dicegat oleh beberapa orang pemuda yang berprofesi sebagai calo. Mereka mencoba memeras dan merampas tas satusatunya milik Badhrowi.
Pada saat itulah, Badhrowi meminum air putih yang sudah didoai Abah Anom. Tiba-tiba, calo-calo pelabuhan yang tak ubahnya preman itu, berubah sikap, menjadi melunak. Mereka segera mencarikan jalan buat Badhrowi agar menaiki kapal penyeberangan Merak-Bakauheni.
Kejadian unik yang dialami Badhrowi itu, merupakan satu dari sekian banyak kisah tentang karomah Abah Anom. Toh, sebagai tokoh agama, Abah Anom lebih dikenal berkat peranan aktifnya di bidang sosial kemasyarakatan. Semua berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Namun, ada pendapat bahwa zuhud itu berarti meninggalkan urusan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat Islam. Sedangkan bagi Abah Anom, "Zuhud adalah qasr al-'amal. Artinya, pendek angan-angan, tidak banyak mengkhayal, bersikap realistis."
Abah Anom (tengah) di pondok pesantren Suryalaya.
Periode tahun 50-an, adalah masa yang menentukan bagi Abah Anom. Waktu itu, ia secara resmi menjadi mursyid (pembimbing) Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah di pesantren tasawuf tersebut. Di saat yang sama, Tanah Air tengah berada dalam kondisi rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antarkelompok, terutama antara DI/TII melawan TNI. Melihat itu, Abah tak tinggal diam, ia membantu para prajurit.
Sebagai pribadi yang memiliki kepedulian sosial, Abah Anom pun terlibat langsung dalam pembangunan irigasi, serta membangun kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik. Untuk mengantisipasi krisis pangan, ia membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat Jawa Barat. Kegiatan itu kemudian menggugah Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jenderal A. H. Nasution untuk meninjau aktivitas di Pondok Pesantren Suryalaya.
Di samping itu, Abah Anom juga mebuat program "rehabilitasi rohani" bagi para mantan anggota PKI. Kontribusinya itu berhasil mendatangkan berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.
Sejak itu, Abah Anom mengembangkan "metode inabah" sebagai penyembuhan rohani. Tidak hanya sekadar nama untuk pesantrennya, inabah adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap narkoba. Orang yang dirawat dengan metode inabah diperlakukan seperti orang yang dianggap memiliki masalah kejiwaan. Dan, terapi yang digunakan terhadap mereka adalah melalui zikir.
Menurut Badhrowi, proses yang harus dilewati terlebih dahulu dalam inabah adalah mandi yang dilakukan di malam hari. Biasanya, itu dilakukan di atas pukul 12 malam. "Di kemudian hari, oleh banyak peneliti, metode tersebut dianalisis dan ternyata dapat dibenarkan secara ilmiah," ujar Badhrowi. Air di malam hari, ternyata mengandung molekul-molekul yang baik untuk kesehatan.
Beberapa penghargaan akhirnya diberikan kepada Abah Anom, khususnya terkait metode penyembuhan terhadap pecandu narkoba tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Juhaya S. Praja, 1981-1989, sebanyak 93,15% dari 5.845 anak binaan yang mengikuti program inabah, bisa kembali menjadi normal. Abah Anom mengatakan, makanan tidak halal adalah salah satu penyebab penyakit. Pada 1980, diadakan lokakarya di pesantren tersebut yang dihadiri oleh delapan departemen sekaligus, yang merupakan kerjasama lintas sektoral yang dibuat khusus untuk menanggulangi kenakalan remaja.
Akhirnya, Januari 2009, Abah Anom menerima Piagam Distinguished Service Awards dari International Federation of Non-Government Organitations (IFNGO), Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebuah penghargaan tertinggi yang diberikan lembaga internasional itu bagi pengabdian seseorang dalam pemulihan korban narkoba.
Piagam itu diserahkan di Australia oleh Chairman IFNGO, Dr. K.C. Lam kepada perwakilan Pesantren Suryalaya di Jakarta, Ir. Ucu Suparta. Abah Anom dinilai telah menyelamatkan nyawa serta masa depan anak-anak bangsa. Penghargaan itu terlihat dipajang di dinding ruangan tamu rumah Abah Anom.
Abah Anom adalah pengagum Syekh Abdul Qadir Jailani, yang antara lain memberikan tuntunan: "Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu."
Abah Anom adalah ulama kharismatik yang kepemimpinan dan pengabdiannya di tengah masyarakat, membuat para tokoh di Tanah Air menaruh hormat kepadanya. Para presiden atau wakil presiden RI bahkan pernah bertandang ke pesantrennya. Diawali dengan kunjungan mantan Presiden Soeharto pada 1995. Kedatangan Presiden Soeharto saat itu didamping Moerdiono yang ketika itu menjabat Menteri Sekretaris Negara. Menjelang pemilihan presiden 2004, giliran Megawati Soekarno Putri yang datang, didampingi tokoh Partai Golkar Akbar Tandjung.
Lima tahun berselang, Jusuf Kalla yang saat itu hendak menyalonkan diri sebagai Presiden pada 2009 juga mengunjungi Abah Anom. Di tahun yang sama, Presiden SBY pun tak mau ketinggalan. Sebaliknya, sampai akhir hayatnya Abah Anom tidak pernah mengunjungi siapa pun pejabat di negeri ini. Kecenderungan itu membuat Abah Anom juga dijuluki "Kiai Pasak Bumi." Artinya, Abah Anom hanya akan selalu menerima tamu di tempatnya ketimbang menjadi tamu di tempat lain.
Sesepuh Ponpes Suralaya Abah Anom di Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (26/6).
Abah Anom meninggal Senin 5 September 2011 sekitar pukul 11.50 WIB atau bertepatan dengan hari Milad Pesantren Suryalaya 5 September 1905. Sebelumnya, almarhum tidak terbaring sakit atau dirawat di rumah sakit. Bahkan, ia sempat menerima tamu di kediamannya. Usai menerima tamu, tiba-tiba ia merasakan sakit. Abah Anom memang diketahui mengidap penyakit jantung.
Jenazah Abah Anom baru dikebumikan pada 6 September 2011 di sebuah bangunan dekat dengan makam ayahnya, Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad. Makam keluarga besar Suryalaya terletak di Puncak Suryalaya atau sekitar kompleks pesantren.
anonim


No comments:
Post a Comment